Rabu, 10 Februari 2010

REFLEKSI

SEDEKAH RAME

BERSATU DENGAN ALAM DENGAN KESADARAN KOLEKTIF

Oleh ; Eko Putra*

Suatu kesadaran yang tumbuh dan diyakini masyarakat secara kolektif dan terus-menerus hidup di dalam kultur masyarakat tersebut. Kemudian secara vertikal menjadi bagian yang tidak terpisahkan antara masyarakat terhadap kesadaran itu sendiri, hal demikian ini disebut sebagai tradisi. Tentu, konsepsi semacam itu sangat banyak berkembang di dalam masyarakat. Baik itu berbentuk lelaku, keyakinan, pandangan-pandangan, gagasan, dan pola-pola interaksi di dalam masyarakat.

Lalu, apakah bentuk kesadaran seperti itu masih ada di tengah serbuan modernisasi yang kurang dicermati secara arif oleh generasi terkini ? Di mana segala sesuatu diukur dengan statistik, pertimbagan material. Individualistis dan pragmatis. Pertanyaan ini, barangkali terlalu absurd dan terlalu gegabah untuk diungkapkan. Tetapi, bagi saya pribadi ini cukup menggelisahkan. Karena secara sadar, saya tumbuh di tengah-tengah masyarakat yang boleh jadi masih memiliki tradisi-tradisi yang sampai hari ini masih tumbuh. Namun, perlahan tradisi-tradisi yang dimaksud mulai tersingkirkan. Dalam pada ini, kegalauan saya barangkali tidak dapat ditebus dengan apapun, kecuali menyikapinya dengan mempersiapkan diri untuk berhadapan dengan realitas kekinian.

***

Di dalam tulisan ini, saya ingin bercerita tentang sebuah tradisi yang dapat saya katakan "masih ada" dan diyakini secara kolektif oleh masyarakat di daerah saya. Tetapi, sebelum terlalu jauh saya membicarakan banyak hal. Ingin saya tegaskan, bahwa saya hanya menggunakan standar pemikiran di mana segala koherensi kepustakaan dengan tangan besi saya abaikan.

Sebab, jujur saja saya bukanlah seorang akademisi yang bergerak di bidangnya jika ditelisik dari latar keilmuan. Pun, hingga saat ini, ijazah yang saya miliki hanya sebatas sekolah lanjutan atas, dan belum pernah tercatat sebagai mahasiswa di perguruan tinggi manapun. Yang mungkin saja, dapat diartikan keilmuan yang mestinya saya miliki untuk menjadi bahan tulisan ini sangat terbatas. Jadinya, apa-apa yang saya ungkapkan nantinya tidak lebih dari sebuah ocehan. Yang mana konteksnya berangkat dari pengalaman secara empirikal, dengan terlibat langsung di tengah "ruang masyarakat."

***

Begini. Di wilayah saya, tepatnya di Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin-Sumatera Selatan, di mana saya berada, dilahirkan, dan dibesarkan. Sampai hari ini, ada sebuah tradisi yang secara rutin dilakukan oleh masyarakat pendukungnya. Sedekah Rame, itulah namanya. Seyogyanya, masyarakat pendukung tradisi ini berlaku bagi seluruh Marga. Marga itu sendiri diartikan, sebagai bagian dari struktural pemerintahan yang diberlakukan sejak zaman Kesultanan Palembang yang mana pemimpinnya adalah seorang Pesirah. Marga kemudian membawahi Dusun-Dusun wilayahnya, yang mana Dusun dipimpin oleh seorang Keria atau Ginde. Namun sejak diberlakukan UU No 5 Tahun 1979 Tentang Pemerintahan Desa, sistem Marga didefinisikan menjadi Kecamatan yang dipimpin oleh seorang Camat. Kemudian Dusun didefinisikan menjadi Desa yang dipimpin oleh seorang Kepala Desa. Terlepas dari semua itu. Berlakunya tradisi ini, sudah sejak lama terpusat dan dipusatkan hanya pada satu Desa, yakni Desa Kertayu, yang kemudian hanya Desa inilah yang masih tetap melakukannya secara terus-menerus.

Menurut masyarakat yang pernah saya tanyakan. Mengapa tradisi ini, hanya dipusatkan dan terpusatkan di Desa Kertayu. Di karenakan leluhur yang dulunya menumbuhkan tradisi tersebut dimakamkan di desa Kertayu. Leluhur yang dimaksud, disebut oleh masyarakat sebagai Puyang Dulu Dusun. Puyang ini bagi masyarakat dianggap memiliki karomah. Sehingga salah satu, mitos yang kemudian sampai hari ini berlaku, kuburannya dianggap keramat dan bertuah. Atas dasar inilah, mengapa prosesi Sedekah Rame dilakukan di desa Kertayu. Yakni, agar rangkaian nyekar ke kuburannya, dapat dilakukan dengan jarak tempuh yang lebih dekat.

Lalu, apa dan bagaimana Sedekah Rame itu sendiri secara harfiah? Lelakunya seperti apa? Jika ditilik dari muasal kata pembentuknya, Sedekah Rame merupakan sebuah frasa yang terbentuk dari dua kata. Yakni Sedekah dan Rame. Kata Sedekah sendiri merupakan sebuah kata serapan yang berasal dari Bahasa Arab shodaqoh yang berarti memberi. Sedangkatan kata Rame sesungguhnya terbentuk dari kata Berame, yang kemudian dilenyapkan suku depan kata menjadi Rame, yang artinya bersama.

Nah, jika ditinjau secara etimologi maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Sedekah Rame merupakan sebuah prosesi saling memberi bersama. Dengan demikian, apakah sarana yang dijadikan untuk saling memberi. Berupa panganan. Berbentuk apa, bahannya seperti apa, bagaimana membuatnya, kapan itu dibuat dan dilaksanakan.

Panganan yang dimaksud adalah lemang, yakni sebuah panganan dengan bahan bakunya adalah beras ketan. Beras ketan yang digunakan ini dapat berupa beras ketan putih, beras ketan merah atau beras ketan hitam. Untuk ketan putih dan ketan merah bagi masyarakat wilayah Kecamatan Sungai Keruh menyebutnya padi pulut karena beras ini jika ditanak akan terasa melekat seperti pulut. Sedangkan ketan hitam, disebut oleh masyarakat sebagai padi arang karena beras dan nasinya berwarna kehitaman. Proses membuat lemang itu kemudian disebut melemang. Seperti apa proses melemang itu secara jelasnya?

Lemang, dimasak dengan menggunakan media bambu yang masih muda batangya. Tetapi tidak semua bambu dapat digunakan. Pertimbangannya, selain ukuran dan bentuk bambu. Agar tidak menyulitkan pengolahan. Biasanya bambu yang digunakan adalah bambu yang disebut

buluh dabuk, karena selain struktur lingkar kulit batangnya agak tipis, ukuran diameternya cukup besar, bambu ini memiliki ruas yang relatif panjang. Bambu muda yang dimaksud, kira-kira ruas paling tuanya sebanyak enam hingga delapan jarak dari rebung pangkalnya.

Lemang sendiri dapat dibuat dalam tiga aneka rasa. Rasa yang pertama yaitu manis, kemudian lemak, dan terakhir lemak manis. Penamaan ini disesuaikan dengan bahan pelengkapnya. Jika ia lemang manis

maka selain ketan, pencampur yang digunakan adalah pisang. Untuk lemang lemak bahan yang dicampur adalah santan yang diberi sedikit garam. Sedangkan lemang lemak manis adalah kombinasi antara lemang lemak dan lemang manis, hanya saja campuran garam tidak dipergunakan. Terkecuali lemang lemak yang biasanya akan dilapisi oleh daun pisang di dalam tabung bambu. Adonan yang telah dibuat, langsung dimasukkan ke dalam tabung bambu.

Setelah dimasukkan ke dalam tabung bambu. Langkah yang dilakukan adalah pengobongan api. Tabung-tabung lemang disusun sedemikian rupa. Lurus searah. Api dinyalakan sampai mengunggun. Jika diperkirakan telah matang. Maka boleh dihentikan prosesi pembakaran. Lemang diangkat, dan siap untuk disantap.

Itu adalah rangkaian pembuatan lemang. Lalu kapan Sedekah Rame itu dilakukan. Lazimnya, tradisi ini dilakukan setelah masyarakat telah selesai ngetam. Satu hingga dua bulan setelah panen padi. Panen padi yang dimaksud adalah panen padi yang dilakukan oleh masyarakat desa yang menggarap ladang berpindah yang disebut ume. Tetua desa/adat akan memberitahukan kapan waktu pelaksanaan Sedekah Rame. Maka dengan serentak seluruh masyarakat akan mempersiapkan hajatan tersebut, dengan panganan utama lemang tadi. Sampai hari H yang telah ditentukan. Tetua yang dimaksud akan memandu ritual. Yang mana ritual ini kemudian secara akuturasi disesuaikan dengan kaidah-kaidah religi yang berkembang di dalam masyarakat. Tentu saja, di hari H yang telah ditentukan itu, tidak hanya lemang yang dijadikan sarana dan simbol. Namun, ada sarana pelengkap yang digunakan, yaitu punjung dan langer.

Punjung merupakan jenis panganan yang juga terbuat dari beras biasa bukan pulut yang ditanak dengan santan dan garam. Boleh dikatakan semacam tumpeng bagi masyarakat tanah Jawa. Tetapi, agak sedikit berbeda dari segi bentuk, biasanya tumpeng Jawa berwujud nasi kerucut dan dibiarkan terbuka di atas talam dan hanya satu dengan ukuran yang besar. Yang mana laukpauk dan sayurnya juga dalam satu wadah. Tetapi punjung berbentuk limas dan selalu dibungkus oleh daun pisang yang akan membuat aroma nasi punjung begitu harum dan gurih.

Ukuran punjung biasa yang saya lihat kira-kira setara dengan besar buah kelapa. Atau bisa lebih kecil dari itu, dan berjumlah ganjil. Jumlah yang paling sering dibuat adalah sebanyak tujuh buah. Jumlah ganjil ini, merupakan filosofis dari manifestasi ketuhanan yang dianggap ganjil. Selain nasi, punjung juga akan disertai oleh lauknya. Lauk yang paling sering disediakan adalah ayam guling yang dimasak dengan cara dipanggang. Yang nantinya jumlah ayam disesuaikan dengan jumlah nasi yang dibuat.

Selanjutnya langer. Ini persis seperti mandi balimau yang dilakukan oleh masyarakat Minang. Harfiahnya, langer terbuat dari daun jeruk nipis atau jeruk purut yang diiris halus kemudian dimasukkan dalam rendaman air. Namun sebelum diiris halus dan direndam pada daun diikat lembar-lembarnya menjadi satu kesatuan, lalu dirapalkan bacaan-bacaan oleh ahli, semacam mantera kebaikan yang telah diselaraskan dengan ajaran-ajaran spiritual yang berkembang di masyarakat.

Daun jeruk ini sendiri, dapat dibawa ke rumah masing-masing penduduk. Yang apabila telah dibacakan rapalannya, dibuat sendiri oleh penduduk di rumah air mandiannya. Mandi langer dilakukan dengan tujuan agar terlepas dari balak dan selamat dipenuhi kebaikan.

Punjung dan langer fungsinya hanya terbatas pada hari H yang telah ditentukan. Karena kedua sarana ini merupakan medium yang digunakan dalam ritual. Media yang paling utama adalah lemang, sebab lemang secara menyeluruh dibebankan kepada masyarakat.

Nah, karena setiap penduduk membuat lemang. Apakah, lemang ini hanya akan dinikmati sendiri. Tidak. Inilah wujud paling nyata dari prosesi ini. Setiap penduduk akan saling bertandang, saling bertukar atau mencicipi lemang antara masing-masing penduduk.

Sesuai asal katanya, terjadilah saling memberi bersama. Misal Kuyung Odi ke rumah Wak Mamat, Wak Mamat akan memberi Kuyung Odi lemang. Wak Mamat bertandang ke rumah Bik Sulam, Bik Sulam membekali Wak Mamat lemang. Bik Sulam silaturahmi ke rumah Kuyung Odi, Kuyung Odi akan memenyapkan lemang kepada Bik Sulam. Begitulah. Prosesi dinamis. Saling berbagi. Saling rasa antara satu dan yang lainnya.

Tradisi saling berbagi lemang ini terjadi dalam rentang waktu berkisar sampai satu pekan hingga persediaan lemang yang dimiliki masing-masing telah habis. Tentu saja, saling berbagi ini tidak hanya terbatas pada warga desa Kertayu. Tetapi, seperti yang pernah saya singgung dalam tulisan ini, itu juga berlaku pada masyarakat desa-desa sekitar yang berada di dalam Kecamatan Sungai Keruh. Namun, masyarakat desa lain, biasanya hanya akan bertandang ke desa Kertayu akan mendapatkan bingkisan pula dari warga yang dikunjunginya.

***

Seiring berkembangnya zaman dari waktu ke waktu. Prosesi Sedekah Rame memang terus dilakukan di Desa Kertayu, tapi dalam beberapa tahun catatan saya. Walaupun kendali ritual barangkali masih dipegang oleh tetua, tapi proses penyerentakan akhirnya disesuaikan dengan Pemerintah terkait. Karena Bupati, Camat, dan para Kepala Desa, seringkali hadir dalam acara ini. Secara afirmasi ini dapat dikatakan sebagai wujud apresiatif pihak berwenang untuk menjaga tradisi yang hidup di tengah masyarakat. Sejatinya, hal ini memang perlu hubungan yang harmonis dan dukungan yang realistis dari Pemerintah untuk peduli dalam lingkungan masyarakat.

Dengan tuturan saya seperti ini. Bagi saya pribadi, Sedekah Rame sendiri sesungguhnya memiliki nilai-nilai filosofis. Rangkaian-rangkaian yang dilakukan. Mulai dari pemilihan waktu pelakasanaan yang dilakukan setelah panen. Merupakan wujud rasa syukur, atas hasil panen yang didapat. Pembuatan lemang yang hanya menggunakan beras ketan, lalu dimasak melalui bambu muda yang dipanggang. Dapat ditafsirkan bahwa segala hawa yang muncul setelah nikmat panen. Diharapkan agar terbakar, kemudian matang dengan dibungkus secara unik. Pun, juga punjung dan langer yang dijadikan sarana. Bahwa segala kesatuan akan membentuk sebuah keselarasan, sebuah gagasan yang menyatukan pemikiran secara kolektif.

Jikapun salah satu rangkaiannya, ada proses nyekar ke makam Puyang Dulu Dusun. Itu merupakan sebuah penghormatan bagi seseorang yang dianggap telah memberikan pengaruhnya di dalam masyarakat banyak. Inti ajaran yang ditumbuhkan oleh leluhur Kami tersebut. Agar seluruh Marga tehimpun dalam sebuah persatuan yang kokoh, selaras dengan konsep alam dengan kesadaran yang arif dan dinamis. Begitulah kira-kira.

Jika demikian. Apakah kita masih setia dengan pemikiran yang arif dalam tradisi. Di tengah konteks kekinian yang semakin gamang ini?

Semoga cahaya selalu menyalakan jiwa kita.

***


3 komentar: